Hubungi Kami
Tips dan Edukasi

Mengenal Satuan Ternak (ST) pada Ternak Ruminansia

Oleh Nama Penulis - 05 October 2025
770 kali dilihat

Dalam dunia peternakan, menghitung jumlah ternak tidak bisa hanya berdasarkan “berapa ekor” saja. Ketika ingin mengetahui kapasitas lahan penggembalaan atau menghitung kebutuhan pakan. Seekor sapi jelas tidak sama kebutuhannya dengan seekor kambing atau domba. Untuk menyamakan ukuran itulah dikenal istilah Satuan Ternak (ST). Istilah ini biasanya digunakan untuk menyamakan ukuran jumlah ternak yang berbeda jenis agar lebih mudah dihitung dan dibandingkan. 

Satuan Ternak (ST) merupakan ukuran baku yang digunakan untuk menyetarakan berbagai jenis ternak berdasarkan bobot hidup rata-rata dan kebutuhan pakan. Dengan adanya ST dapat terhitung kapasitas kandang, kebutuhan hijauan, hingga daya tampung lahan secara akurat. Sebagai contoh, satu ekor sapi tentu membutuhkan pakan jauh lebih banyak dibandingkan satu ekor kambing. Kalau hanya dihitung jumlah ekor, hasilnya bisa rancu. Oleh karena itu, melalui pendekatan ST, setiap jenis ternak dikonversikan ke dalam ukuran setara. Umumnya, acuan yang digunakan di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • 1 sapi dewasa = 1,00 ST

  • 1 sapi muda (1–2 tahun) = 0,50 ST

  • 1 pedet (anak sapi < 1 tahun) = 0,25 ST

  • 1 kambing atau domba dewasa = 0,14–0,20 ST

  • 1 kambing/domba muda = 0,07–0,10 ST

Mengapa Satuan Ternak ini penting? Berikut beberapa manfaatnya: 

1. Menghitung Kapasitas Lahan

Satuan Ternak (ST) digunakan untuk menghitung kebutuhan lahan yang berkaitan dengan penyediaan fasilitas kandang dan area penunjang pemeliharaan. Perhitungan ini membantu peternak merancang kapasitas kandang yang ideal sesuai jumlah ternak yang dipelihara, sehingga ternak tidak mengalami kepadatan yang berlebihan dan tetap nyaman. Sebagai contoh, 1 ST membutuhkan sekitar 3 m² luas kandang, sehingga jika ada 10 ST, maka diperlukan 30 m² kandang. Selain kandang, perhitungan ST juga menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan lahan untuk menanam hijauan pakan agar pasokan tetap terjaga sepanjang tahun. ST menjadi acuan penting untuk menyeimbangkan jumlah ternak dengan ketersediaan sarana pemeliharaan dan pakan, serta memastikan usaha peternakan berjalan efisien dan terukur.

2. Menghitung Kebutuhan Pakan

Selain kapasitas lahan, ST juga berfungsi untuk mempermudah perhitungan kebutuhan pakan ternak. Dengan menggunakan standar bahwa 1 ST memerlukan sekitar 10 kg bahan kering hijauan setiap hari, peternak dapat dengan mudah menyesuaikan pemberian pakan pada berbagai jenis ternak. Contohnya, 5 ekor kambing yang setara dengan 1 ST (5 x 0,2 ST = 1 ST) akan memerlukan jumlah pakan yang sama dengan seekor sapi, yaitu 10 kg bahan kering hijauan per hari. Sistem ini membantu peternak untuk menyusun ransum pakan dengan lebih akurat, menghindari kekurangan atau kelebihan pakan, serta mempermudah perencanaan cadangan pakan, terutama pada musim kemarau ketika hijauan segar sulit diperoleh. Perhitungan berbasis ST membuat manajemen pakan lebih efisien dan terukur.

3. Memudahkan Perbandingan Produksi

Penggunaan ST mempermudah perbandingan populasi ternak meskipun jenis ternaknya beragam. Misalnya, sebuah peternakan yang memiliki 4 sapi, 10 kambing, dan 15 domba dapat dihitung dalam bentuk ST, yaitu 4 sapi = 4 ST, 10 kambing = 2 ST, dan 15 domba = 3 ST, sehingga totalnya 9 ST. Dari perhitungan tersebut, dapat diketahui bahwa populasi ternak setara dengan 9 ekor sapi dewasa. Data ini memudahkan analisis kapasitas produksi ternak, perencanaan sumber daya, hingga pengambilan keputusan terkait pengembangan usaha. Penyetaraan populasi ternak membuat informasi yang dihasilkan lebih seragam, mudah dipahami, dan lebih objektif untuk dijadikan dasar perbandingan antarwilayah atau antarperiode waktu.

4. Menyusun Kandang dan Produksi Pupuk

ST juga sangat bermanfaat dalam perencanaan pembangunan kandang dan perhitungan hasil sampingan berupa pupuk kandang. Standarnya, 1 ST membutuhkan ruang kandang sekitar 3 m² agar ternak dapat hidup dengan nyaman tanpa stres akibat kepadatan yang berlebihan. Selain itu, 1 ST dapat menghasilkan kurang lebih 4 ton pupuk kandang setiap tahun, yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian. Informasi tersebut sangat penting karena bisa memperkirakan luas kandang yang diperlukan berdasarkan jumlah ternak dalam ST, serta menghitung potensi produksi pupuk kandang yang dapat dijual atau digunakan sendiri. Penggunaan ST tidak hanya membantu dalam aspek pemeliharaan ternak, tetapi juga mendukung efisiensi dalam pemanfaatan hasil samping yang bernilai ekonomis.

5. Menjaga Keseimbangan Lahan dan Ternak

Salah satu manfaat terbesar penggunaan ST adalah untuk menjaga keseimbangan antara jumlah ternak dengan ketersediaan pakan. Dalam manajemen peternakan, terdapat istilah ST ternak (STt) dan ST maksimum lahan (STm). Jika STt melebihi STm, artinya jumlah ternak lebih banyak dibanding ketersediaan pakan, maka akan terjadi kekurangan pakan, padang rumput bisa rusak akibat overgrazing, dan ternak akan mengalami penurunan kondisi tubuh karena asupan pakan tidak mencukupi. Sebaliknya, jika STm lebih besar dari STt, artinya terdapat surplus pakan yang dapat dimanfaatkan untuk menambah populasi ternak atau disimpan sebagai cadangan pakan. Dengan adanya perhitungan ini, peternak dapat menjaga keseimbangan ekosistem padang rumput, memastikan ternak tetap sehat, serta mengelola sumber daya dengan lebih berkelanjutan.

Satuan Ternak (ST) merupakan konsep penting dalam peternakan yang digunakan untuk menyamakan perhitungan berbagai jenis ternak. Dengan menggunakan ST, dapat memudahkan dalam menghitung daya tampung, kebutuhan pakan, kapasitas kandang, kapasitas lahan, dan manajemen usaha. 

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi nusaqu.id atau hubungi tim kami