Hubungi Kami
Tips dan Edukasi

Parasit Penyebab Penyakit pada Ternak Ruminansia

Oleh Nama Penulis - 12 December 2025
697 kali dilihat

sumber: putra, i. putu cahyadi, et al. "penyakit parasit pada ternak ruminansia”.

Infeksi parasit merupakan salah satu tantangan terbesar dalam usaha peternakan ruminansia. Meski ukurannya kecil, parasit mampu menimbulkan kerugian besar karena berdampak langsung pada kesehatan, produktivitas, hingga keberlangsungan usaha peternakan. Mulai dari penurunan berat badan, rendahnya produksi daging dan susu, gangguan reproduksi, hingga kematian—semua dapat menjadi konsekuensi serius dari infestasi parasit. Kondisi semakin memburuk ketika terjadi ko-infeksi, yaitu infeksi oleh lebih dari satu jenis parasit sekaligus, yang membuat diagnosis lebih sulit dan meningkatkan risiko kerugian ekonomi. Karena itu, pemahaman mengenai jenis-jenis parasit, dampaknya, serta faktor penyebab infeksi sangat penting bagi peternak.

1. Dampak Infeksi Ektoparasit pada Ruminansia

Ektoparasit seperti kutu, pinjal, caplak, nyamuk, dan tungau memiliki dampak kesehatan yang signifikan terhadap ternak. Infestasi yang tidak ditangani dapat menyebabkan penurunan kondisi fisik, stres, hingga penularan penyakit berbahaya.

Beberapa contoh dampak spesifik ektoparasit:

  • Kutu → menyebabkan anemia, iritasi, dan peradangan kulit.
  • Tungau → memicu kudis (mange), kebotakan, kulit menebal, gatal hebat, serta penurunan berat badan.
  • Nyamuk → dapat menularkan BEF (Demam Tiga Hari).
  • Caplak → menyebabkan kehilangan darah, anemia, piroplasmosis (parasit darah)
  • Lalat penghisap darah → dapat membawa parasit darah seperti Surra dan Anaplasmosis.

Infeksi ini tidak hanya menimbulkan rasa sakit, tetapi juga menurunkan efisiensi pemeliharaan. Hewan menjadi stres, nafsu makan berkurang, dan rentan terkena infeksi sekunder. Akibatnya, produksi daging, susu, dan kualitas kulit menurun, sementara biaya perawatan meningkat.

2. Faktor-Faktor yang Meningkatkan Risiko Infeksi Parasit

a. Faktor Hospes (Inang)

Kerentanan ternak terhadap parasit dipengaruhi oleh kondisi fisiologis dan genetik.

  • Usia: Hewan muda dengan sistem imun belum matang dan hewan tua dengan imunitas menurun lebih rentan terinfeksi.
  • Jenis kelamin: Betina cenderung rentan saat bunting dan menyusui, sementara jantan dapat terpengaruh oleh perubahan hormonal dan aktivitas tinggi saat musim kawin.

b. Faktor Agen (Parasit)

Setiap parasit memiliki karakteristik biologis yang memengaruhi tingkat bahaya:

  • Siklus hidup yang panjang, khususnya pada fase larva, membuatnya mampu bertahan lama di lingkungan.
  • Kemampuan adaptasi terhadap suhu hangat dan kelembaban tinggi mendukung kelangsungan hidup parasit di padang rumput.

Dengan sifat yang dinamis, parasit dapat menyesuaikan diri dengan kondisi inang dan lingkungan, sehingga sulit dikendalikan bila tidak dilakukan pencegahan rutin.

c. Faktor Lingkungan

Lingkungan memegang peran besar dalam penyebaran parasit.

  • Kelembaban tinggi, curah hujan, dan suhu hangat sangat mendukung perkembangan telur dan larva parasit.
  • Musim hujan menjadi periode paling berisiko karena kondisi lapangan lebih lembap, memungkinkan parasit bertahan lebih lama dan lebih cepat berkembang.

Kombinasi faktor inang, agen, dan lingkungan membuat infeksi parasit menjadi ancaman kompleks yang memerlukan pengendalian menyeluruh.

Parasit mungkin berukuran kecil, tetapi dampaknya dapat sangat besar bagi kesehatan dan produktivitas ternak ruminansia. Mulai dari gangguan kulit, anemia, stres, hingga penyakit darah yang fatal semua dapat merugikan peternak jika tidak dicegah sejak dini. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin, kebersihan kandang, serta pengendalian ektoparasit harus dilakukan secara konsisten.

Bersihkan, periksa, dan lindungi ternak secara berkala. Dengan pencegahan yang tepat, peternak dapat menjaga ternak tetap sehat, produktif, dan terlindungi dari ancaman parasit.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi nusaqu.id atau hubungi tim kami